Analisis Film: Trinity, The Nekad Traveller


Nama                     : Frita Maria
Prodi                      : Psikologi
Fakultas                 : Fakultas Pendidikan Psikologi
Mata Kuliah          : Psikologi Lintas Budaya
Dosen Pengampu  : Dr. Phil. Zarina Akbar, M.Psi

I. IDENTITAS FILM

Judul Film          : Trinity, The Nekad Traveller
Genre                  : Drama, Petualangan
Durasi                 : 103 Menit
Tanggal Rilis      : 16 Maret 2017
Pemain               :  Maudy AyundaHamish Daud, Babe Cabita, Rachel Amanda, Ayu Dewi,Anggika                                Bolsterli, Cut Mini, Farhan, Tompi
Produser             : Ronny Irawan. Agung Saputra, Lela Tresna
Sutradara            : Rizal Mantovani
Penulis Naskah  : Rahabi Mandra
Produksi             : PT Tujuh Bintang Sinema


II. SINOPSIS FILM



            Film ini adalah hasil adaptasi dari buku The Naked Traveller karangan Trinity sendiri (penulis aslinya). Di filmnya, mengalami sedikit perubahan pada judul dan beberapa jalan cerita.
Trinity (Maudy Ayunda) adalah seorang pegawai kantoran sekaligus travel writer yang hobinya berjalan-jalan. Menurutnya, ia travelling demi memiliki bahan atau materi agar dapat ditulis diblognya, dan ia butuh materi itu untuk mendapatkan uang sebagai modal jalan-jalannya.
Sebagai blogger, banyak orang yang mengira situsnya adalah kumpulan cerita orang yang berjalan-jalan sambil telanjang. Beberapa perusahaan atau negara pun memblokir situs yang mengandung kata ‘naked’, hingga akibatnya, situsnya sempat ter-banned. Bahkan inbox email-nya penuh dengan junk mail yang isinya jualan obat-obatan ‘aneh’.
Sejak kecil, ia diajarkan oleh ayahnya untuk mencari uang sendiri jika menginginkan sesuatu. Begitu juga kalau ingin jalan-jalan. Setiap kumpul dengan keluarga besar, selalu saja membicarakan tempat yang pernah atau akan dikunjungi. Trinity juga memiliki dua sahabat sejak kuliah, yaitu Yasmin (Rachel Amanda), dan Nina (Anggika Bolsterli) yang memiliki hobi serupa.
Ia selalu membuat banyak daftar tempat yang ingin dikunjungi untuk jalan-jalan (bucket list) di buku kecilnya. Gadis ini bahkan pernah bekerja di beberapa tempat sewaktu lulus kuliah, seperti menjadi SPG, sampai kini ia sudah lama bekerja di suatu perusahaan. Namun mejanya sering kosong, karena ia terlalu sering jalan-jalan. Sampai pada saat ia ingin kembali travelling, ia dilarang oleh bosnya (Ayu Dewi) karena jatah cutinya dalam setahun sudah habis. Trinity pun diberi target, dan jika tercapai, ia dibolehkan pergi, namun jika tidak, gajinya akan dipotong.
Kisah cinta dengan pacarnya, Charles Bonar yang ingin Trinity menjadi calon istri yang memiliki menu makan sehat pun tidak dilanjutkan. Sementara itu, ayah (Farhan) yang berlatar belakang suku Batak dan ibunya (Cut Mini) dengan suku Sunda, sudah menginginkan cucu darinya. Sedangkan ia selalu berkilah akan mencari jodoh bila bucket-list-nya sudah terpenuhi.
Keliburan kantor karena ‘hari kejepit nasional’ pun dimanfaatkan Trinity untuk memesan tiket pesawat untuk pergi ke provinsi paling Selatan di pulau Sumatera dengan ibukotanya Bandar Lampung. Disana, ia melihat Festival Layang-layang, yang membuatnya menemui Aldo, seorang penduduk lokal yang akhirnya membawanya ke rumah makan masakan Lampung terenak. Setelahnya, mereka berdua naik kapal untuk pergi menyeberang ke Anak Gunung Krakatau. Perjalanan di sana dipimpin oleh seorang tour guide wanita yang menggambarkan kejadian meletusnya Krakatau, juga aturan saat menaiki anak Krakatau, yaitu untuk menjaga sikap dan perkataan. Setelahnya, Trinity pun berpisah dengan Aldo dan melanjutkan perjalanannya sendirian.
Di Way Kambas, Trinity bertemu Paul (Hamish Daud), volunteer yang sedang memandikan seekor gajah di kolam. Mereka berdua asik membicarakan kelangkaan Gajah Sumatera yang terus kehilangan habitatnya akibat dijadikan area perkebunan. Paul dan Trinity memiliki destinasi berbeda. Sebelum mereka berdua kembali terpisah, Trinity sempat meminta nomor ponselnya. Menurut Paul, bila mereka jodoh, maka akan bertemu kembali tanpa berhubungan atau janjian terlebih dahulu.
Saat kembali ke kantor, bosnya menargetkannya untuk meningkatkan produktivitas dan performa kerjanya agar bisa memperoleh jatah cuti lagi. Kebetulan ada Tompi yang sedang sesi pemotretan di sana, Trinity ingin memenuhi bucket list-nya melalui swafoto dengan Tompi. Ia melakukan penelitian atau survey kecil-kecilan dan mengidekan untuk membawa Tompi ke Makassar dan mengadakan event disana, karena kebanyakan yang berkomentar positif akan Tompi di berita, artikel dan lainnya adalah orang dengan bergaya bahasa khas Makassar. Makassar sebagai kota besar dan pintu gerbang masuk ke Indonesia bagian timur itu dimanfaatkan bosnya untuk memasarkan produk perusahaannya.
Trinity yang sedang makan dengan dua sahabatnya, ditelepon bos untuk datang ke kantor. Di kantor, ia diminta untuk membawakan Tompi melon kotak ke Makassar. Ia pun ke Makassar dengan tiket pesawat dan hotel yang dibiayai oleh kantornya. Ia bertemu Tompi lalu menemaninya makan melon berdua, rupanya untuk menaikkan mood Tompi sebelum briefing dan kembali kerja. Trinity yang terlambat terbang ke Jakarta, akhirnya dapat tiket pulang malam hari, Sebelumnya, ia makan Coto Makassar, lalu pergi ke Karst Ramang-ramang untuk menunggu waktu pulang.
Di kantor, rupanya penjualan produk kantor naik hingga tiga ratus persen. Trinity langsung menyusun rencana trip ke Filipina dengan sahabatnya dan juga sepupunya, Ezra (Babe Cabita). Untuk bisa minta jatah cuti, ia mengerjakan semua pekerjaannya untuk dilaporkan ke bos, dan akhirnya ia diizinkan cuti dan berangkat ke Manila dengan budget pas-pasan.
Sesampainya di Manila, mereka berwisata kuliner ke Quiapo Market. Di sana, ada beberapa jajanan yang mirip seperti di Indonesia, misalnya kembang tahu, es dung-dung, dan tempe pinggir jalan. Makanan aneh seperti anak ayam satu hari pun dijual. Yasmin dan Trinity bertengkar karena bucket list Trinity yang harus selalu dipenuhi dan over budget. Ezra yang hilang  karena mencari minyak angin saat itu, akhirnya pulang sendiri ke hotel tempat ia menginap.
Trinity dan kedua sahabatnya pulang, dan mendapat email misterius dari Mr.X yang meminta nomor id reservation, lalu membelikannya tiket ke tempat yang ingin ia datangi, Maldives. Tanpa diduga, di sana ia bertemu Paul. Mereka berpacaran, namun hubungannya kembali kandas karena Trinity merasa tidak nyaman akan semua yang terjadi. Trinity memutuskan kembali pulang, dan dibelikan lagi tiket pulang gratis dari Maldives gratis oleh Mr.X.
Paul yang berjanji akan menelepon saat Trinity kembali di Jakarta pun hilang dengan janjinya. Setelahnya, Trinity resign dari kantor, namun masih tetap melanjutkan hobi jalan-jalannya. Akhirnya Trinity menemukan pekerjaan yang cocok dan sesuai dengan panggilan hatinya, penulis buku. Akhirnya, ia menerbitkan buku yang best seller dengan judul “The Naked Traveller”. Dalam sebuah wawancara promosi, saat ditanya negara mana yang paling berkesan untuknya, dengan bangga Trinity menjawab, 'Ke mana pun kaki melangkah, rumahku Indonesia'.

III.             ANALISIS FILM TERKAIT DENGAN KAJIAN LNTAS BUDAYA
Menurut Matsumoto (1996), “Culture as the set of attitudes, values, beliefs, and behaviors shared by a group of people, but different for each individual, communicated from one generation to the next “. Sedangkan menurut Koentjaraningrat (1988), budaya diartikan sebagai wujud yaitu mencakup keseluruhan dari gagasan, kelakuan, dan hasil-hasil kelakuan. Budaya diyakini sebagai produk, baik berupa gagasan maupun sudah berwujud perilaku atau material.
Berdasarkan penjabaran alur cerita film diatas, ditemukan bahwa banyak sekali budaya yang ditunjukkan di dalamnya, serta dapat dikaitkan dengan beberapa aspek dari psikologi lintas budaya terkait film ini.
Sosialisasi merupakan pewarisan budaya yang melibatkan pengajaran yang terjadi dalam kelompok. Menurut Child (dalam Segall, 1990), sosialisasi diartikan sebagai keseluruhan proses yang berlangsung individual yang dapat diterima oleh individu tersebut dengan merujuk pada standar dan nilai-nilai dari kelompoknya. Agen primer yang berperan dari berlangsungnya proses sosialisasi dalam film ini adalah kedua orang tua Trinity yang dengan percampuran budaya Jawa atau Sunda dengan Bataknya mengajarkan anaknya untuk berkepribadian seperti yang diharapkan, dan menjadikan anaknya hidup dengan berperspektif multikultural.
Akulturasi juga didapatkan dalam film ini. Akulturasi adalah proses saling mempengaruhi antara dua kebudayaan yang mengakibatkan tercampurnya kebudayaan itu. Hal ini yang menjadi warna dalam kehidupan Trinity. Latar belakang orang tua bahkan perbedaan yang ada antara keluarga besarnya dari segi fisik, ras, etnis, suku, agama, dan golongan pun menjadikan Trinity memiliki sikap yang bisa menerima perbedaan. Terlepas dari adanya krisis personal atau tidak, Trinity mungkin cukup pandai dalam mengatasi stress akulturasi yang mungkin timbul.
Dari sisi kepribadian atau self-nya, Trinity merupakan seseorang yang pandai bergaul, pemberani, cukup memiliki jiwa skeptis yang tinggi, tidak cepat puas, dan menyukai hal atau pengalaman baru. Selain itu, dirinya juga menginternalisasi hal-hal seperti kemandirian yang diajarkan oleh ayahnya, misalnya saat menginginkan sesuatu, baiknya ia harus berusaha mendapatkannya dengan usaha sendiri. Hal-hal yang dipahaminya sebagai konsep atau bahkan persepsi diri inilah yang kemudian membawanya kepada perjalanan panjangnya selama ini, ia tidak pernah ragu dan takut sedikit pun untuk mengunjungi daerah mana pun. Di dalam ataupun luar Indonesia. Dengan mudahnya, ia dapat membawa dirinya hingga bisa menyesuaikan dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru ia temui.
            Persepsi (dalam Matsumoto, 2008) merupakan tindakan menyusun informasi dari organ-organ sensorik menjadi suatu keseluruhan yang bisa kita pahami. Banyak hal yang bisa menjadi stimulus untuk kemudian disensasi lalu dipersepsikan oleh Trinity. Berbagai inderanya selalu bekerja saat ia travelling¸ia melihat pemandangan yang unik dan indah, mendengar setiap bahasa yang berbeda-beda, meraba penampakan atau benda bahkan bentuk makanan yang belum pernah ia temui sebelumnya, mencium bau masakan bahkan mengecap rasa masakan. Semua itu dipersepsikan oleh Trinity dengan caranya sendiri. Berdasarkan keterkaitan persepsi dengan realitas, pengecapan, maupun pengalaman, akhirnya ia berpersepsi bahwa seindah-indahnya ia berada di negeri orang, bahkan Maldives sekalipun, yang akan selalu ia rindukan adalah negeri Indonesia ini. Dari hal ini, dapat dipahami bahwa kebudayaan turut membentuk atau mengkonstruksi caranya mempersepsi lingkungan.
            Kognisi adalah istilah umum yang mencakup seluruh proses mental yang mengubah masukan dari indera menjadi pengetahuan. Dari kemiripan makanan Filipina dengan Indonesia, dikatakan bahwa Trinity dan sahabatnya sedang berkutat dalam kategorisasi kognitifnya. Trinity berbicara dengan Nina yang suka memfoto semua hal, sedangkan ia tidak. Trinity menekankan pada kognisinya untuk mengingat kejadian atau peristiwa dan hal-hal bagus yang ditangkap oleh kelima indranya selama travelling. Namun, ia pun masih membutuhkan blog yang menjadi wadahnya dalam menyimpan semua ingatan yang didapatnya itu selama perjalanan.
Terkait dengan kajian ilmu psikologi lintas budaya dengan ilmu lainnya, seperti Psikologi Perkembangan,  Trinity yang baru diketahui memiliki adik perempuan ini mungkin saja merasakan pola asuh orang tua yang demokratis atau otoritatif, yaitu gaya pengasuhan yang tegas, adil, dan masuk akal. Karena berdasarkan film, dikatakan bahwa ia belajar mandiri dari ayahnya dan karena ayahnya jugalah yang mengajarkan, yang akhirnya menjadikan dirinya seperti sekarang ini (tidak bergantung kepada orang tua, pandai bergaul, pemberani dan cukup percaya diri).
Untuk hal tempramen, kurang dibahas terlalu lebih di film ini. Namun sekilas terlihat bahwa Trinity memiliki tempramen yang cukup tenang dan tidak agresif dalam menyikapi segala sesuatu. Kelekatannya dengan orang tua pun dinilai cukup lekat dan dapat digolongkan ke kelekatan yang aman (ikatan dimana sang ibu bersikap hangat dan responsive), karena saat scene yang berada di ruang tamu, ibu, ayah dan ia cukup menunjukkan sebuah proses diskusi yang hangat di balik adanya akulturasi antar dua budaya. Trinity cukup terbuka dalam membahas dan menceritakan hubungannya dengan mantan pacarnya, Charles Bonar. Begitupun orang tuanya yang asertif dalam menyampaikan keinginannya pada anaknya itu. Selain itu juga melihat bahwa mereka sering berkumpul dengan keluarga besar.
Dalam hal pemerolehan bahasa, Trinity cukup pandai beradaptasi walaupun dengan menggunakan bahasa Inggris, dan bukan bahasa Tagalog sewaktu di Manila, Filipina. Dari waktu pembacaan komentar mengenai Tompi pun, ia berkata cukup mengenali bahasa yang digunakan setiap orang, yang bisa menandakan dari suku mana ia berasal.
Ditilik dari bidang psikologi sosial, ditemukan adanya hal-hal seperti ketertarikan interpersonal Trinity dengan Paul, adanya kehangatan baik di dalam persahabatan mereka maupun hubungan keluarga Trinity sendiri, dan lain sebagainya.
Sebagai pegawai kantoran, Trinity tidak terlepas dari aspek psikologi lintas budaya terkait kajian Psikologi Industri Organisasi. Misalnya saja seperti, dimana mungkin terlihat budaya kerja yang ditampilkan di film, ketika ia berdiskusi dengan bosnya ataupun kala rapat dengan rekan sekerjanya, menunjukkan budaya organisasi dalam perusahaan itu. Trinity mungkin mendapatkan konflik batin dimana jiwanya ingin bebas dan berjalan-jalan, namun ia harus duduk manis di kantor menyelesaikan setiap deadline yang diberikan bosnya. Ia juga sulit keluar dari zona nyamannya. Hingga akhirnya tiitk jenuhnya adalah saat ia mengundurkan diri dari kantor demi untuk menemui keinginan batinnya yang hakiki.
Selain itu juga, demi memperoleh jatah cuti atau bahkan hari libur tambahan, di samping itu, Trinity dinilai memiliki motivasi dan produktivitas yang tinggi. Terbukti pada berbagai target yang dibuat oleh bos baginya, namun tetap berhasil ia capai, bahkan lampaui. Misalnya saat penjualan produk perusahaan naik 300% berkat ide brilian darinya. Dan juga untuk tugas yang belum waktunya dikumpulkan, namun sudah lebih dulu dikerjakannya. Sebagai pegawai kantoran yang juga traveler, ia dinilai cukup hebat dan bertanggung jawab dalam pekerjaannya.
Satu-satunya konflik antar budaya organisasi yang terlihat adalah dengan rekan sekerja wanitanya yang selalu menitip untuk dibawakan oleh-oleh kemanapun Trinity pergi. Ia seperti bersaing dengannya.
 
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. “Trinity, The Nekad Traveller”. [Online] Diakses pada 3 Juni 2018, dari situs  https://www.wowkeren.com/film/trinity_the_nekad_traveler/

 

Golan, Merwyn. (2017). “Sinopsis Film ‘Trinity, The Nekad Traveler’ (2017): Jalan-Jalan Hemat ala Trinity”. [Online] Diakses pada 3 Juni 2018, dari situs


Matsumoto, David. (2008). Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pardede, Veynindia Esaloni. (2015). “Film ‘Trinity, The Nekad Traveller’ Kisahkan Keunikan Dalam Travelling”. [Online] Diakses 3 Juni 2018, dari https://hot.detik.com/movie/3276142/film-trinity-the-nekad-traveler-kisahkan-keunikan-dalam-traveling

 

Wikipedia. (2018). “Trinity, The Nekad Traveller”. [Online] Diakses pada 2 Juni 2018, dari situs https://id.wikipedia.org/wiki/Trinity,_The_Nekad_Traveler

Comments

Popular posts from this blog

Analisis Film: The Hundered Foot Journey